Makna kebahagiaan

21.32 / Diposting oleh Laaaaaa / komentar (0)

"Jika  anda tidak bisa menemukan makna kebahagiaan dari penjelasan ini, maka tidak ada lagi penjelasan yang lebih baik dari ini".

Bahagia bisa kita dapatkan dari banyak hal. Jika sesorang memberi hadiah, hati senang menerimanya. Jika anda dipuji orang,  anda senang mendengarnya. Jika anda naik pangkat, anda bersuka cita merayakannya. Jika anda mendapat keberuntungan –keberuntungan yang lain, anda akan sangat bahagia mendapatkannya.

Namun, mengapa saat musibah menimpa seperti kebangkrutan usaha, dikhianati seseorang, gagal dalam ujian, seseorang yang anda sayangi meninggal atau segala berita menyedihkan lainnya anda akan sangat bersedih karenanya, bahkan anda akan putus asa, patah arang, dan menyalahkan takdir atau bahkan memprotes Tuhan.
Inilah karena kita belum menemukan sumber kebahagiaan kita sendiri. Inilah karena kita tidak mengerti makna kebahagiaan sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri. Untuk memahaminya, mari kita simak cerita ini.

Alkisah ada seorang pengembara yang sangat gigih mencari makna kebahagiaan. Disusurinya jalan yang panjang, disebranginya hutan belantara, lembah demi lembah ia lewati, gunung demi gunung ia naiki, hanya untuk mendapatkan makna kebahagiaan yang abadi. Kebahagiaan yang tidak akan membuatnya bersedih lagi. Hingga suatu hari, ia bertemu dengan seorang guru di sebuah gunung. Ia bertanya kepadanya akan makna kebahagiaan yang selama ini dicarinya. Sampai saat ini tidak ada yang bisa menjelaskan makna kebahagiaan yang diinginkannya yang dapat memuaskan hatinya. Sang gurupun tidak langsung menajwab. Ia merenung beberapa saat. Dan akhirnya mengeluarkan suara. “wahai anak muda jika kamu benar-benar ingin mendapatkan jawaban yang kau cari, buatlah sebuah danau untuk sebuah penduduk di sebelah bukit. Mereka tidak mempunyai sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jumlahnya kurang lebih dua ratus orang. Buatlah sebuah danau untuk mencukupi kebutuhan mereka semua. Danau yang bening seperti air mata”

Sejenak, sang pengembara berfikir, “bagaimana membuat sebuah danau sebening air mata untuk mencukupi kebutuhan dua ratus penduduk? Duhai.. danau.. sebening air mata? Dan seorang diri?”. Sungguh ini bukan pekerjaan mudah kawan. Namun, karena keinginannya yang begitu teguh untuk mendapatkan jawaban yang selama ini ia cari, akirnya dia menyetujui titah sang guru.

Ia berjalan menuju sebelah  bukit. Lokasinya di tengah hutan yang luas. Ia mulai mengerjakan tugasnya. Perlahan, ia menggali tanah. Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu, hingga dalam waktu satu tahun, ia dapat membuat danau seluas lapangan sepak bola dengan kedalaman 3 meter. Airnya mengalir dari hutan. Melalui parit-parit kecil menuju danau. Ada sekitar 12 parit mengelilingi danau menyalurkan air dari hutan.

Sang pengembara sangat senang. Tugasnya telah selesai. Ia bisa membuat danau seorang diri seluas lapangan sepak bola dengan kedalaman 3 meter yang airnya juga jernih. Kemudian ia langsung memberitahukan kabar gembira ini kepada gurunya. Sang guru bersedia datang esok harinya. Namun, sayang sekali, malam sebelum gurnya datang menengok danau yang jernih hasil buatannya, hujan turun sangat lebat. Hingga pada pagi harinya saat gurunya datang, danau itu sudah berubah menjadi danau susu. Airnya menjadi coklat karena air hujan. Sang guru kecewa.

Ia berfikir bagimana caranya biar walaupun hujan turun, air dalam danau tidak keruh. Kemudian ia memasang saringan air yang lembut di setiap parit yang menuju danau. Wal hasil, danaunya kini jernih walaupun hujan lebat turun. Satu tahun telah berlalu untuk menyempurnakan pekerjaannya membuat danau yang jernih seperti air mata. Akhirnya, ia memanggil gurunya. Ketika guru melihatnya, ia mengambil kayu yang panjang, dan menusuk nusukkannya ke dalam danau. Maka air yang awalnya jernih bagai air mata,  Nampak keruh karena lumpur yang naik akibat tusukan kayu. Guru menyuruhnya untuk mencoba lagi. 

Kali ini ia benar-benar bekerja lebih giat lagi untuk membuat danau sejernih air mata. Ia menggali lagi terus menggali hingga menemukan dasarnya berupa bebatuan-bebatuan yang memancarkan air. Air jernih memancar dari dasar danau. Kemudia ia menutup semua parit-parit yang mengalirkan air dari hutan menuju ke danau. hasilnya, ia berhasil membuat danau yang jernih seperti air mata. dan kini, walaupun hujan lebat, atau gurunya menusuk nusukkan kayu panjang ke dasar danau, danau itu akan tetap jernih seperti air mata.
Nah inilah dia makna kebahagiaan yang selama ini ia cari. Tanpa penjelasan sang guru, ia telah lebih paham dari sang guru. Parit-parit yang mengalirkan air menuju ke danau itulah gambaran kebahagiaan yang selama ini kita dapatkan. Semua kebahagiaan itu dari luar. Maka ketika ada musibah atau berita buruk datang, ia akan kembali sedih seperti air yang keruh terkena hujan atau terkena tusukan kayu. Tapi saat kebahagiaan itu bersumber dari diri kita sendiri, air danau terpancar dari dasar danau, maka walaupun hujan lebat atau apapun yang menusuknya, ia akan tetap jernih. Begitulah hati kita. Jika kebahagiaan itu bersumber dari diri kita sendiri, maka ia akan tetap begitu.

Adapun untuk  mendapatkan sumber air dari dasar danau itu, butuh perjuangan yang panjang, pengorbanan yang berat, dan kesabaran yang super untuk mendapatkannya. Kebahagiaan akan terpancar dari dalam hati kita sendiri, apabila kita telah melewati proses kehidupan yang menghilangkan semua lumpur-lumpur dia atasnya, hingga menyisakan batuan-batuan di dasarnya yang memancarkan air yang tetap bening. Sebening air mata.

Tulisan ini adalah tumpahan memori saya setelah membaca buku Tere Liye "Ayahku Bukan Pembohong" sungguh sangat berkesan...

Label:

Manusia-manusia yang luar biasa...

08.23 / Diposting oleh Laaaaaa / komentar (3)

PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) di Unair di mulai tahun 2007. Dan aku masuk tahun 2008. Ternyata banyak sekali hikmah di balik keterlambatanku masuk SD. Padahal hanya karena tidak bisa mengucapkan huruf R dengan benar dan saat itu, aku sudah bisa membaca dan menulis sebelum anak-anak yang diterima itu bisa melakukannya. Pada angkatan ini, aku bertemu dengan teman-teman pondok yang sangat menyenangkan dan penurut. Dan pada angkatan ini, aku bertemu dengan teman-teman PBSB yang luarrrr biasa…

Matrikulasi tahun 2008 di Asrama Mahasiswa Universitas Airlangga adalah awal mengenal manusia-manusia luar biasa ini. “Khiyaarun min khiyaarin”, adalah ungkapan yang pas untuk mereka. Berasal dari berbagai daerah dan budaya. Utusan terbaik dari berbagai pesantren di Indonesia.

Aku sangat bersyukur masuk dalam barisan mereka. Barisan maha-santri Universitas Airlangga. Barisan yang berjuang menuntut ilmu untuk pengabdian seorang hamba kepada Rab-nya, dan pengabdian seorang santri kepada pesantrennya. Pesantren tempat darah dan dagingnya terbentuk hingga remaja dan dewasa. Pesantren tempat menemukan jati diri seorang hamba. Pesantren tempat meraup ilmu dan hikmah kehidupan. Barisan itu, akan tetap kokoh hingga tercerai oleh ajal. Dan akan menyatu lagi di tempat keabadian. Barisan itu, kini sedang saling menguatkan.




Label:

How About You?

23.13 / Diposting oleh Laaaaaa / komentar (0)

Kawan, hidup kita di dunia ini tidaklah lama. Dunia bersifat fana atau sementara. Tidaklah kita hidup di dunia ini kecuali hanya sehari atau setengah hari. Ini akan terasa ketika kelak kita sudah tiba di kampung akhirat. Akankah kita menukar akhirat yang kekal dengan dunia yang hanya sekejap ini?

Perkara yang pertama yang akan dihisab adalah shalat. Shalat adalah komunikasi seorang hamba dengan Rabnya. Jika lancar dan baik komunikasinya, maka akan akrab hubungannya. Layaknya hubungan dua sijoli, komunikasi yang baik akan membuat mereka tentram dan bahagia. Dan komunikasi itulah yang membuat mereka saling merindukan satu sama lain.
Komunikasi yang baik seorang hamba dengan Rabnya, itulah kekhusyuan. Hadirlah dalam shalatmu. Kehidupan itu adalah ruh. Jika ruh meninggalkan jasad, tak ada lagi kewajiban shalat. Jika jasadmu saja yang shalat, maka apalah arti shalatmu? Samakah komunikasi jasad dengan ruh? Samakah jika anda berbicara dengan seseorang atau dengan sebuah boneka?

Ibnul Qoyyim rahimhullah berkata: Manusia di dalam  masalah shalat terbagi menjadi beberapa tingkatan:

Pertama:
Tingkatan  orang yang zhalim terhadap dirinya sendiri dan lalai dengan shalatnya. Dialah orang yang shalat dengan wudhu’ yang tidak sempurna, shalat tidak pada  waktunya, batas-batasnya dan tidak menyempurnakan rukun-rukunnya.

Kedua:
Orng yang semata-mata menjaga waktu, batas-batas shalat dan rukun-rukunnya yang lahiriyah dan menjaga waudhu’.  Namun dia tidak berusaha melawan bisikan-bisikan  maka dia terhanyut dalam bisikan-bisikan dan pikiran-pikirannya di dalam shalat.

Ketiga:
Barangsiapa yang menjaga batas-batas shalat dan rukun-rukunnya, dan bersungguh-sungguh mengarahkannya jiwanya dalam melawan bisikan-bisikan dan fikiran-fikiran yang menggoda di dalam shalatnya, maka dengan hal tersebut sesungguhnya dia telah menyibukkan dirinya dalam menghadapi musuhnya agar musuhnya itu tidak mencuri shalatnya, maka dengan seperti ini dia berada dalam sholat dan jihad.

Keempat:
Orang yang apabila bangkit menunaikan shalat maka dia menyempurnakan hak-hak, rukun-rukun dan aturan-atauran shalat, hatinya dikerahkan untuk menjaga tuntutan-tuntutan shalat, agar dia tidak menyia-nyiakan sedikitpun dari ibadah shalatnya, bahkan seluruh potensi dan semangatanya tercurah untuk menyempurnakan penegakan shalat sebagaimana mestinya, maka dengan ini sungguh hatinya telah terarah pada perkara shalat  dan ubudiyahnya kepada Allah swt.

Kelima:
Orang yang bangkit menegakkan shalat dengan cara seperti di atas, bersamaan dengan itu dia hatinya tertumpah di hadapan Allah Azza Wa Jalla, dia melihat Allah dan menyadari akan pengawasan Allah, hatinya cinta kepadaNya dan mengagungkanNya sekan dia melihat Allah, semua bisikan dan lintasan-lintasan pikirante telah terhapus, telah terangkat dinding antara dirinya dan TuhanNya, maka orang yang seperti ini di dalam perkara shalat lebih utama dan lebih agung dari pada jarak yang memisahkan langit dan bumi, orang yang seperti ini  sedang sibuk dengan bermunajat kepada Tuhannya swt di dalam shalatnya.

Golongan pertama akan disiksa,
golongan kedua akan dihisab,
golongan ke tiga menghapuskan kewajiban,
golongan keempat diberi pahala, dan
golongan ke lima mendekat kepada  Tuhannya, sebab dia termsuk golongan orang yang menjadikan shalat sebagai perlipur lara bagi hatinya, maka barangsiapa yang hatinya senang dengan shalatnya di dunia maka dia akan senang dengan kedekatannya kepada Allah pada hari kiamat kelak, dan dia juga akan senang di dunia, dan barangsiapa yang hatinya senang dengan Allah maka setiap mata akan senang dengannya namun barangsiapa yanghatinya tidak senang dengan Allah swt maka jiwanya  akan tercerai berai atas dunia ini dengan berbagai kerugian”.

Diantara kiat-kiat untuk mencapai kekhusyua’an dalam shalat adalah:
Pertama:
Sesorang muslim harus menghadirkan keagungan Allah swt pada saat shalatnya tersebut, dia berdiri di hadapan Penakluk langit dan bumi
Kedua:
Seorang muslim harus melihat ke arah tempat sujudnya dan tidak menoleh ke arah manapun saat shalatnya.
Ketiga:
Mentadabburi Al-Qur’an dan zikir-zikir yang dibacanya saat shalat.
Keempat:
Mengingat kematian saat shalat.
Kelima:
Hendaklah seorang muslim mempersiapkan dirinya untuk shalat, jangan sampai dia shalat dalam keadaan menahan sakit perut atau menahan kencing atau shalat di hadapan makanan yang terhidang.
Keenam:
Berusaha mengarahkan jiwa agar dia bisa khusyu’ dalam sholat. Khusyu’ bukan perkara yang mudah maka seseorang mesti harus bersabar dan berusaha.
Ketujuh:
Menghadirkan di dalam jiwa pahala  yang akan didapatkan oleh orang yang khusyu’ di dalam shalat. 


Label:

SIAPAKAH LAKI-LAKI ITU?

23.46 / Diposting oleh Laaaaaa / komentar (0)

Desa ini begitu sepi. Sejauh mata memandang, hanya terlihat pohon-pohon bambu. Jalan-jalan yang kususuri begitu lengang, hanya terdengar kicauan burung yang menggema. Ayah, yang begitu lembut kepada anak kecil, dulu sering singgah di sini. Memberikan beberapa buah jambu yang dipetiknya dari kebun. Ayah, yang tegas dan disegani karena akhlaknya yang luhur, dan ketegasannya pada kebenaran, dulu selalu menggandeng tangan mungilku di sini. Aku masih ingat dengan jelas makian ibuku pada ayah karena pulang membawa tangan kosong. Ayah ternyata tidak membelikan ibu barang pesanannya. Uang yang seharusnya untuk membeli pesanan ibu itu, ayah berikan semuanya kepada seorang anak kecil yang merengek menangis pada ibunya. Anak itu ingin sekolah, dan ibunya tidak mengabulkan permintaannya karena tidak mampu membiayainya.

Aku berjalan menuju pancor <pancuran air>. Kini, tak ada lagi tugas mencuci piring dari ibu. Kemarin, aku masih mencuci setumpuk piring, panci, dan aneka perabot seusai ibu  menjual pecel. Pecel yang paling diakui kelezatannya di desaku. Tak ada bandingannya. Mengambil dan mengusung beberapa belanga air dari sini menuju rumahku untuk ibuku. Kemarin, aku masih mendengar suara omelan orang-orang yang akan mandi di sini karena menungguku selesai mencuci segunung piring. Dan aroma bekas perabotan kotor yang kucuci, masih dapat kucium.

Kini, aku sudah remaja. Tanpa ayah dan ibu, untuk apa kuhidup di desa ini. Apa yang harus kulakukan sekarang? Semakin hari, aku semakin merasa kesepian. Rumah ini benar-benar sepi. Dan desa ini benar-benar sunyi. Hanya segelintir manusia yang tinggal di sini. Jika dihitung, jumlah pohon-pohon yang tumbuh di desa ini jauh lebih banyak dari penduduknya. Aku hanya mendengar suaraku sendiri. Teriakanku hanya dibalas teriakan yang sama. Otakku sekan buntu, dan aku tidak merasakan perkembangan apapun. Apa yang bisa kulakukan di sini? Untuk membangun masa depanku? Memperbaiki keturunan keluargaku yang hampir punah?. Ibuku hanya melahirkan aku dan kakak perempuanku. Dan aku tak dapat mengandalkan apapun darinya. Aku laki-laki tunggal dalam keluargaku. Dan hanya akulah yang mewarisi darah mulia ayahku.

Aku harus membuat keputusan berarti untuk hidupku. Aku tak boleh mati sebelum mati. Aku tak bisa hidup seluang ini. Waktuku terbiasa habis tanpa kurasa. Malamku terbiasa padat dengan aktivitas mengaji, menggoreng dan ngulek berkilo-kilo kacang dalam semalam. Subuhku terbiasa sempit karena terhimpit dengan aktivitas mencuci piring dan mengambil beberapa belanga air. Dzuhurku terbiasa habis di dalam hutan, mencari beberapa pikulan kayu dan menjualnya ke pasar. Asarku terbiasa pendek karena harus segera menjual ebatan keliling kampung. Dan magribku terbiasa kuhabiskan di kandang sapi, sambil mengaji dan menjaga sapi-sapiku. Aku harus pergi. Entah ke mana aku tak mau tetap di sini. Tanpa orang kedua orang tuaku, aku tak punya tujuan lagi tinggal di desa ini.  

Aku harus berpijak pada bumi yang dapat menjadikanku lebih baik. Bertemu dengan orang-orang yang dapat memberikanku ilmu. Berjalan dan belajar di tanah air negeriku. Mengenal dan belajar budaya dan bahasa daerah-daerah yang asing bagiku. Memetik hikmah yang dalam dari berbagai peristiwa-peristiwa berharga untuk bekal hari tuaku. Menemukan peradaban baruku. Keluarga dan keturunan yang berbakti dan berbudi.


Siapakah dia? Laki-laki yang begitu berbakti pada kedua orang tuanya, terutama ibunya. Laki-laki yang waktu-waktunya begitu padat untuk berbakti? Laki-laki yang begitu sadar akan pentingnya perkembangan? Tak mau diam menggenang, tapi ingin selalu mengalir. Laki-laki yang ingin mencapai tangga-tangga kemajuan?. Meraih peradaban baru yang lebih baik? Dan berani mengambil resiko untuk pergi ke tempat asing seorang diri, yang sama sekali tidak mengenal siapapun di sana? 

Laki-laki yang hebat itu,,,
Beliaulah AYAHKU….


Beliaulah yang memberiku semangat untuk maju. Menginspirasi setiap hari-hariku. Obat keputus asaanku. Beliaulah ayah yang sederhana, dan tak butuh pangkat dan penghargaan. Dan selama aku masih di sini (Surabaya), jejak-jejak langkahnya meninggalkan bekas dalam imajinasiku….
I Love You Ayah…
Doaku untukmu dan Ibu, tak pernah alpa dalam hembusan napasku….

Label:

Biomaterial Ayee...

10.56 / Diposting oleh Laaaaaa / komentar (13)

Sesaat, ingin memahami arti hidup bersama 12 mahasiswa biomaterial Universitas Airlangga. Di tengah kesibukan membuat proposal penelitian ujian akhir. Aku ingin memahami eksistensiku di sini. Di kelas biomaterial yang dihuni 12 cah biomat. Bocah-bocah yang dilahirkan (diantaranya) untuk menulis skripsi dalam bidang biomaterial. Penggores sejarah sebagai angkatan pertama prodi Teknobiomedik Unair. Ini dia cah-cah biomat 08:

Miranda Zawazi Ichsan
Anak kampung yang senang dengan kesederhanaan. Berbakti dan membahagiakan orang tua adalah misi utama hidupku. Nyantri di sebuah pondok modern dan salafy. Kuliah bermodal keyakinan dan doa. Tak ada sangu, tak ada tabungan. Mencukupkan hidup dengan biaya dari Depag dan berusaha menyisakan sedikit jatah bulanan untuk berbakti. Diam dan membatasi diri dengan orang yang baru, dan koplak jika sudah menyatu. Ingin belajar sebanyak-banyaknya namun terbatas karena mata yang selalu mengantuk. Bersemangat jika disemangati, dan mudah turun karena lupa.

Windi Aprilyanti Putri
Anak Mojokerto satu ini, selalu bersemangat dan ingin cepat. Semua pekerjaan atau tugas-tugas yang diberikan, biasanya Windi yang selesai duluan. Berbuat baik, adalah kebahagiaan baginya. Mengikuti hati nurani dan tegas pada pendirian, itulah Windi. Sepertinya, di masa depan, kau akan mendirekturi beberapa perusahaan Wind. Dan kau banyak menginspirasiku. Terimakasih ya. 

Perwitasari F.L.R
Wita, anak lebay dari Surabaya dan selalu punya kata-kata unik yang membuat orang tertawa terpingkal-pingkal. Baik pada setiap orang dan meneduhkan. Wita, dengan suara lembutnya, bisa menjelaskan segala sesuatu dengan terang dan jelas. Masalah apapun, terlihat enteng jika wita yang menangani. Dan Wita, ingin selalu menyelsaikan tugasnya dengan hasil yang maksimal.

Istifarah
Farah, mahasiwi yang berkampung halaman di Madura. Farah terlihat pendiam dan tenang. Farah diam tapi pasti. Banyak bertanya dan selalu ingin tau sepertinya menjadikannya melejit sekarang. Tenang, tapi menghanyutkan. Perlahan tapi pasti. Itulah Farah yang hobi dengan cangkang telur.

Arindha Reni Pramesti
Bocah ngawi yang ceria dan sedikit alay karena memilih Wita sebagai soulmatenya. Arindha selalu bersemangat dan menyemangati orang lain. Berusaha lebih baik dari hari ke hari, itulah kebiasaanya. Senang bergaul dengan siapa saja, senang berbuat baik, dan senang mengenal hal-hal baru. Tekun, dan tidak tergesa-gesa adalah sebagian dari sifat Arindha yang kuketahui.

Ary Andini
Ary selalu bersemangat dalam berbagai hal. Lucu dan unik. Senang menghadapi tantangan adalah karakter Ary yang sangat jelas. Teguh dengan pendapat yang dianggapnya benar dan percaya diri. Baik hati, dan berhati-hati.

Agnes K
Agnes jarang melucu, tapi suka tertawa melihat kelucuan. Agnes terlihat pendiam, tapi banyak beraktivitas. Berfikir realistis dan banyak menimbang, mungkin itu saja yang kuketahui tentang Agnes.

Tri Wahyuni Bintarti
Satu lagi anak lebay dari Surabaya, yaitu Yuyun. Dengan gigi-giginya yang tersusun rapi dan putih, melihat Yuyun akan selalu tergoda untuk tertawa. Berlagak longor, tapi sebenarnya sangat cerdas. Yuyun akan menempuh segala cara yang dianggapnya mungkin untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya dan tidak akan membiarkan kesempatan berlalu begitu saja.

Nurul Istiqomah
Panggilan Metex berasal dari Gresik. Sebagai anak biomat, metex berusaha sebaik mungkin untuk menjadi anak biomat yang baik dengan belajar yang tekun, mengumpulkan tugas tepat waktu, dan rajin absen. Metex menyimpan jiwa pemalu dibalik wajahnya yang selalu cerah dan ceria. Itu menurutku, hehe.

Wida Dinar
Wida yang modis dan tenang menginspirasi orang untuk banyak belajar. Rajin mencatat hal-hal penting dari dosen, dan selalu serius dalam perkuliahan. Serius dan focus adalah ciri khas Wida yang kukenal. Jarang guyon, tapi tertawa juga kalo melihat orang lucu.

Aditya Iman Rizki
Oh ini adalah raja alay di kelas biomat 08. Bocah Surabaya ini selalu tampil rapi  dan formal ke kampus. Jago bahasa inggris, tapi aku tak mampu memahami kata-katanya saking fasihnya. <Mungkin kalau bahasa inggris dibaca seperti bahasa arab, aku bisa menyaingi dia hehe>. Adit selalu tampil tenang, tapi sebenarnya sedikit ceroboh. Dia ingin menyelesaikan segala sesuatu dengan sempurna, itulah Adit. Serius dan focus. Tapi, kata-katanya yang lucu dapat menggoncang dunia.

Gilang Daril Umami
Gilang, seperti namanya, gurih. Gilang adalah orang yang fokus saat waktunya untuk serius, dan akan bersantai jika saatnya untuk santai. Mungkin, hanya itu yang dapat kuungkapkan tentang Gilang.

PIONEER

Selalu semangat kawan,, kita adalah pioneer di masa depan. Kita adalah harapan bangsa ini, yang akan mengisi kemerdekaan di zaman “ketitaniuman” karena kita adalah generasi “pengganti” bangsa. Tentunya menggantikan dengan lebih baik. Indonesia adalah Negara yang kaya. Indonesia tidak perlu impor untuk memenuhi kebutuhannya jika penghuni pulau yang kaya ini mampu dan cerdas memanfaatkan kekayaannya. 

Lihatlah dari Sabang sampai Merouke, itu adalah Indonesia. Tak ada satupun pulau di Indonesia ini yang tak tumbuh rumput di buminya. Tak satupun pulau di Indonesia ini yang tak ada air mengalir di dalamnya. Apapun yang ingin anda dapatkan di Indonesia, tersedia di kepulauan ini. Gampang saja jika kita ingin menghancurkan dunia. Musnahkan saja hutan di Kalimantan. Mungkin manusia akan terbakar karena panasnya suhu bumi. Karena Indonesia adalah paru-paru dunia. Seperti manusia yang dilepas paru-parunya, apa yang akan terjadi? Begitulah dunia akan kacau berantakan.

Kawan, ini Negara kita, tanah kelahiran kita, tempat menghabiskan masa kecil yang bahagia, tumbuh remaja, dan dewasa. Inilah tanah air Indonesia, tempat berlindung di hari tua. Hingga akhir menutup mata. Mungkin, bidang yang kita geluti selama 4 tahun ini hanya salah satu dari bermilyaran keping sisi kehidupan. Hanya salah satu dari berjuta-juta profesi yang tersemat dalam nama-nama rakyat Indonesia. Tapi, dari sudut kecil kelas ini, cahaya peradaban yang gemilang telah mengintai. Dan kitalah yang akan memancarkan cahaya itu. Muka kita akan mengisi album-album kenangan manis perjuangan mengisi kemerdekaan di museum kehidupan kita. Kehidupan yang mungkin akan pendek, atau panjang. 

Kekayaan Indonesia itu bukan untuk dipandang saja. Kekayaan Indonesia bukan untuk mencari nama pada Negara-negara maju, dan bukan pula untuk dijual sebagai pembuncit perut-perut para koruptor. Tapi, kekayaan itu untuk memakmurkan negeri ini. Memberi makan orang-orang yang kelaparan, memberi jaminan hidup untuk orang tua yang tak berdaya, dan memberi pendidikan bagi anak-anak dan pelajar. Teman, kita adalah beberapa utusan yang dipilih dan diberi kesempatan untuk menolong orang-orang itu. Dengan karya kita yang terbatas pada apa yang kita pelajari, pahami dan ingin dilakukan. Kita punya lahan masing-masing. Dan setiap lahan itu menunggu untuk disemai.

Aku, memiliki satu lahan yang menunggu untuk disemai. Terletak di NTB yang punya sejuta sapi.  Di sudut kota Kediri, sebuah Pondok Pesantren yang punya ribuan santri. Aku bermimpi untuk menunjukkan pada dunia, bahwa santri tidak hanya bisa mengaji. Namun santri, juga bisa mengolah tulang sapi. Dari tulang sapi yang tak berarti, dapat menjadi penolong bagi kehidupan manusia. Tulang sapi dapat diolah menjadi hidroksiapatit yang sekarang sedang populer sebagai material untuk memperbaiki jaringan keras seperti tulang. Lihatlah bank jaringan, tempat PKL kita dulu menginspirasiku untuk bermimpi. Karena stok yang sangat minim tak sebanding dengan kebutuhan yang begitu besar. Bank jaringan sebagai penyuplay tunggal di Indonesia. Bayangkan jika beberapa pondok pesantren saja dari ribuan pondok pesantren yang tersebar di tanah air Indonesia ini mampu mengolah tulang sapi menjadi hidroksiapatit. Betapa bahagianya para dokter ortopedik dan  si pasien. Dengan harga yang sangat minim, orang bisa terhindar dari cacat tulang.
Hidroksiapatit (HA)

Nah, ini impianku kawan. Aku yakin kalian juga pasti punya impian-impian yang hebat untuk masa depan. Kepada 11 kawanku yang kusayang, ayo kita sama-sama berjuang. Menyelesaikan TA bersama-sama, saling mendukung dan membantu, itu sepertinya akan sangat menyenangkan. 

Kawan, kita adalah inspirasi bagi para pendidik yang telah bersusah payah untuk prodi ini. Kita adalah penghias dan sumber senyum mereka. Kita adalah harapan para pasien yang tak mampu memperoleh kesembuhan karena mahalnya biaya operasional yang diminta. Dan kita adalah putra-putri orang tua kita yang sedang menunggu anaknya menjadi dewasa dan bermanfaat bagi keluarga, agama, dan bangsanya.

“Bekerjalah kamu, maka Tuhan dan orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu itu”

Tangan Pioneer,, hehe
Yuyun, Miranda, Dr. Yanti, Ary, Windi, Wida, Gilang


Wita, Metex, Agnes, Dr. Yanti, Arindha, Farah, Adit
 
Bersama ibunda biomat ^_^


Terimakasih sebesar-besarnya, dan sebanyak-banyaknya kepada Dr. Yanti sebagai penyemangat dan pendukung kami. Motor penggerak dan penolong kami. Semoga jerih payah yang beliau rasakan akan terbalas dengan kebaikan yang sempurna di sisi Alloh tabaaroka wa ta'aala. Dan untuk semua dosen Teknobiomedik yang baik hati, semoga semakin gemilang dengan prestasi, kebijaksanaan, dan diberi kesehatan serta panjang umur.

Label:

Inilah Kenapa Aku Harus Menikah..

10.59 / Diposting oleh Laaaaaa / komentar (0)

 Sunyi sekali……..
Namun, hatiku tak sesunyi malam ini. Ada banyak bisikan, ada banyak harapan, dan ada banyak keluhan. Apa lagi yang dipikirkan oleh kebanyakan wanita berusia di atas dua puluh tahun kecuali menikah? Aku termasuk orang kebanyakan itu. Aku termasuk wanita di atas dua puluh tahun itu.
Aku ingin memiliki teman hidup yang sejati dan seutuhnya, Membagi suka dan duka, saling menyemangati, saling mengingatkan, dan tolong menolong dalam ketaatan dan kesabaran. Aku tidak ingin menikah  karena tuntutan umur, keluarga, memenuhi kebutuhan biologis, atau hanya sekedar membanggakan diri karena telah menjadi seorang permaisuri… Namun, aku hanya ingin menyempurnakan separuh agamaku secepatnya, sebelum tiba waktunya untuk kembali kepadaNya.
Jika seorang wanita sholat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, dan berbakti pada suaminya, maka dipersilahkan baginya untuk masuk pintu-pintu surga, dari mana saja yang ia kehendaki… Pesan Rasul inilah yang selalu terngiang dalam setiap malamku, ketika aku takut untuk memejamkan mata. Aku takut terpejam untuk selamanya, sedangkan aku belum memegang kunci surga itu. Aku takut karena begitu menggunung dosaku. Aku takut karena mungkin begitu banyak hak yang belum kupenuhi. Aku takut karena begitu sering aku lalai padaNya..
Mungkin aku berfikir tentang jalan pintas. Jalan pintas untuk memantaskan diriku menghadap penciptaku. Yaitu dengan menjadi abdi seorang suami. Menjadi baju baginya, dan menjadi sahabat terbaik dalam hidupnya… Hingga aku dapat mendapatkan kunci surga itu.
Aku tetap menjadi seorang putri bagi kedua orang tuaku. Aku tetap akan menjadi putri kesayangannya. Aku tetap berbakti kepada keduanya sebaik-baiknya. Aku tetap akan melayaninya selamanya. Dan aku akan mengorbankan pernikahan untuk kedua orang tuaku….Keputusan yang kupegang selama dua puluh tahun. Yang awalnya kuanggap terbenar dan terbaik bagiku. Di posisiku sebagai anak ke-2 dari dua bersaudara. Aku adalah anak perempuan dan kakakku laki-laki. Laki-laki pasti akan menikah dan aku sebagai anak perempuan akan mengurus kedua orang tuaku yang semakin menua dan lemah hingga akhir hidupku… Aku merasa cukup berbahagia dengan berbakti membahagiakan kedua orang tuaku hingga habis sisa umurku. Dan aku merasa cukup untuk meraih kasih sayang Rabku dengan birrul waalidain…
Akhirnya keputusan itu runtuh di usiaku yang ke-21. Saat aku berfikir akan arti kehidupan sesungguhnya. Ketika aku melihat teman-temanku yang berbahagia dengan pernikahannya. Dan ketika kumelihat orang tua yang tak punya siapa-siapa untuk mengurusnya. Terlantar, tertatih sorang diri. Tak ada suami, tak ada anak. Padahal seharusnya di usia senja seperti itu, ia duduk di singgasana seorang ratu yang anak-anaknyalah ajudannya .Dan ketika kuperhatikan sabda Rasul bahwa wanita itu atas tanggungan suaminya, bukan orang tuanya.
Teringat pula cerita ayahku di masa kecilku. Saat aku belum paham apa yang ingin diajarkannya melalui cerita itu. Bahwa seorang shahabiyah ditinggal berjihad oleh suaminya. Suaminya berpesan agar tidak meninggalkan rumah saat suaminya pergi berjihad. Maka sang istri dengan patuh memenuhi perintah suaminya. hingga suatu hari ayah shahabiyah ini mengutus seseorang untuk mengabarkan bahwa dirinya sedang sakit parah, maka tengoklah sebentar. Namun, dengan sopan kepada sang utusan ia menolak karena suaminya tidak mengizinkannya meninggalkan rumah. Kemudian di lain hari sang utusan mengabarkan lagi bahwa ayahnya telah meninggal, maka tengoklah untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan. Tapi sang shahabiyyah tetap menolak dengan lembut karena amanah suaminya. karena dianggap sikapnya keterlaluan, diadukanlah perihalnya kepada Rasulullah. Apa jawab rasul? Beruntunglah sang ayah karena memiliki seorang putri yang sholihah seperti dia, karena teguh memegang amanah suaminya. Maka surgalah bagi sang ayah karena telah berhasil mendidiknya. Akhirnya ayahku menutup ceritanya dengan berpesan padaku supaya  menjadi istri sholihah seperti shahabiyah tadi yang menolak mendatangi ayahnya yang sakit parah hingga ia meninggal dunia. Ayahku bilang  “Nak, jika nanti ayah sakit dan akan meninggal sedangkan keadaanmu seperti itu, maka taatlah pada suamimu. Karena ayah akan mendapatkan surga karenamu, putriku yang sholihah”. “ iya, Insyaalloh ayah”,, jawabku waktu itu yang seolah-olah mengerti. Ternyata aku butuh beberapa tahun untuk memahami nasehat itu.
Jika aku tidak menikah, cukupkah kebahagiaanku dengan melihat teman-temanku yang berbahagia dengan pernikahannya dan menceritakan betapa dirinya begitu diberkati mendapat suami terbaik baginya? Jika aku tidak menikah, siapa yang akan mengurusku ketika aku tua nanti seperti aku mengurus kedua orang tuaku? Jika aku tidak menikah apakah aku tidak akan menyesal meninggalkan kebaktianku yang seharusnya bertumpu pada seorang laki-laki yang bernama suami?
Kulihat betapa mudahnya seorang wanita yang berbakti kepada suaminya memperoleh syahadahnya. Kulihat betapa bahagianya seorang wanita yang bersahabat dekat dengan laki-laki (suaminya). Kubaca dalam sejarah bahwa orang-orang besar lahir dari seorang wanita yang luar biasa. Mereka para ulama’ dan sholihin tidak akan hadir di dunia ini tanpa seorang ibu yang sholihah. Kulihat bahwa orang-orang besar, pasti hadir seorang wanita luar biasa di belakangnya yang mendorong dan mendukungnya.
Aku bertanya pada hati nuraniku apakah aku tidak ingin seperti mereka? Para ibu yang terukir dalam sejarah karena telah melahirkan para pembesar Islam? Apakah aku akan menyia-nyiakan kesempatan untuk melahirkan dari rahimku seseorang yang akan meninggikan kalimat Alloh di bumi, pembesar Islam dan sholihin? Apakah aku tidak ingin menjadi seorang wanita tangguh di belakang laki-laki tangguh yang dihargai dan dihormati? Yang menjadi suplemen bagi suaminya, yang menjadi kekuatan bagi pangerannya, dan menjadi penyemangat setianya? Apakah aku akan menyia-nyiakan kesempatan ini?
Tidak…. Duhai Alloh,, aku akan mengambil kesempatan itu. Kesempatan untuk melahirkan pembesar – pembesar Islam. Kesempatan untuk menjadi kekuatan bagi seorang pangeran. Ya Alloh aku akan menyempurnakan separuh agama ini, dan dengan izinMu, inilah bentuk pengabidanku pada orang tuaku………..

Label:

Gerakkan Semangatmu ............!!!!!

09.11 / Diposting oleh Laaaaaa / komentar (0)

Hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan (Robert F. Kennedy)
Setiap pria dan wanita sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka (Brian Tracy)
Percayalah pada keajaiban, tapi jangan tergantung padanya (H. Jackson Brown, Jr)
Rayulah aku, dan aku mungkin tak mempercayaimu. Kritiklah aku, dan mungkin aku tak menyukaimu. Acuhkan aku, dan aku mungkin tak memaafkanmu. Semangatilah aku, dan aku mungkin takkan melupakanmu (William Arthur)
Jika Anda membuat seseorang bahagia hari ini, Anda juga membuat dia berbahagia dua puluh tahun lagi, saat ia mengenang peristiwa itu (Sydney Smith)
Manusia yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu mencari teman. Namun yang lebih lemah dari itu adalah orang yang mendapatkan banyak teman tetapi menyia-nyiakannya. (Ali bin Abi Thalib)
Jangan segan untuk mengulurkan tangan Anda. Tetapi, jangan juga segan untuk menjabat tangan orang lain yang datang pada Anda (Pope John XXIII)
Alam memberi kita satu lidah, akan tetapi memberi kita dua telinga, agar kita mendengar dua kali lebih banyak daripada berbicara (La Rouchefoucauld)
Sahabat paling baik dari kebenaran adalah waktu, musuhnya yang paling besar adalah prasangka, dan pengiringnya yang paling setia adalah kerendahan hati (Caleb CC.)
Kebahagiaan tergantung pada apa yang dapat Anda berikan, bukan pada apa yang Anda peroleh (Mohandas Ghandi)
Kegagalan tidak diukur dari apa yang telah Anda raih, namun kegagalan yang telah Anda hadapi, dan keberanian yang membuat Anda tetap berjuang melawan rintangan yang bertubi-tubi (Orison Swett Marden)
Dan bahwa setiap pengalaman mestilah dimasukkan ke dalam kehidupan, guna memperkaya kehidupan itu sendiri. Karena tiada kata akhir untuk belajar seperti juga tiada kata akhir untuk kehidupan (Annemarie S.)
Urusan kita dalam kehidupan bukanlah untuk melampaui orang lain, tetapi untuk melampaui diri sendiri, untuk memecahkan rekor kita sendiri, dan untuk melampaui hari kemarin dengan hari ini (Stuart B. Johnson)
Saya telah mempelajari kehidupan pria-pria besar dan wanita-wanita terkenal, dan saya menemukan bahwa mereka yang mencapai puncak keberhasilan adalah mereka yang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ada di hadapan mereka dengan segenap tenaga, semangat dan kerja keras (Harry S. Truman)
Sebagian orang mengatakan kesempatan hanya datang satu kali, itu tidak benar. Kesempatan itu selalu datang, tetapi Anda harus siap menanggapinya (Louis L’amour)
Kegagalan dapat dibagi menjadi dua sebab. Yakni orang yang berpikir tapi tidak pernah bertindak dan orang yang bertindak tapi tidak pernah berpikir (W.A. Nance)
Kebahagiaan tertinggi dalam kehidupan adalah kepastian bahwa Anda dicintai apa adanya, atau lebih tepatnya dicintai walaupun Anda seperti diri Anda adanya (Victor Hugo)
Jika kita memulainya dengan kepastian, kita akan berakhir dalam keraguan, tetapi jika kita memulainya dengan keraguan, dan bersabar menghadapinya, kita akan berakhir dalam kepastian (Francis Bacon)
Jangan melihat masa lalu dengan penyesalan, jangan pula melihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah sekitarmu dengan penuh kesadaran (James Thurber)
Orang-orang menjadi begitu luar biasa ketika mereka mulai berpikir bahwa mereka bisa melakukan sesuatu. Saat mereka percaya pada diri mereka sendiri, mereka memiliki rahasia kesuksesan yang pertama (Norman Vincent Peale)
Kebahagiaan akan tumbuh berkembang manakala Anda membantu orang lain. Namun bilamana Anda tidak mencoba membantu sesama, kebahagiaan akan layu dan mengering. Kebahagiaan bagaikan sebuah tanaman, harus disirami tiap hari dengan sikap dan tindakan memberi (J. Donald Walters)
Sedikit sekali orang yang memiliki hartanya sendiri. Hartalah yang memiliki mereka (Robert G. Ingersoll)
Hidup adalah sebuah tantangan, maka hadapilah. Hidup adalah sebuah nyanyian, maka nyanyikanlah. Hidup adalah sebuah mimpi, maka sadarilah. Hidup adalah sebuah permainan, maka mainkanlah. Hidup adalah cinta, maka nikmatilah (Bhagawan Sri Sthya Sai Baba)
Orang yang bahagia bukanlah pada lingkungan tertentu, melainkan orang dengan sikap-sikap tertentu (Hugh Downs)
Jangan takut untuk mengambil satu langkah besar bila memang itu diperlukan. Anda tak akan bisa melompati jurang dengan dua lompatan kecil (David Lloyd George)
Tak ada rahasia untuk menggapai sukses. Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras dan mau belajar dari kegagalan (General Collin Power)
Kita menilai diri kita dengan mengukur dari apa yang kita rasa mampu untuk kerjakan, orang lain mengukur kita dengan mengukur dari adap yang telah kita lakukan (Henry Wadsworth Longfellow)
Pengalaman bukan apa yang terjadi pada Anda, melainkan apa yang Anda lakukan atas apa yang terjadi pada Anda (Aldous Huxley)
Sukses seringkali datang pada mereka yang berani bertindak, dan jarang menghampiri penakut yang tidak berani mengambil konsekuensi (Jawaharlal Nehru)
Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan, tetapi hebat dalam tindakan (Confusius)
Kita tidak tahu bagaimana hari esok, yang bisa kita lakukan adalah berbuat sebaik-baiknya dan berbahagia hari ini (Samuel Taylor Colleridge)
Amatlah sedikit yang diperlukan untuk membuat suatu kehidupan yang membahagiakan, semuanya ada di dalam diri Anda, yaitu di dalam cara berpikir dan bersikap (Fred Corbett)
Kesalahan terbesar yang dibuat manusia dalam kehidupannya adalah terus-menerus merasa takut bahwa mereka akan melakukan kesalahan (Elbert Hubbad)
Kebanggan kita yang terbesar bukan karena tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kita jatuh (Confusius)
Tiadanya keyakinanlah yang membuat orang takut menghadapi tantangan, dan saya percaya pada diri saya sendiri (Muhammad Ali)
Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan, saat mereka menyerah (Thomas Alfa Edison)
Semua orang tidak perlu malu karena berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana dari sebelumnya (Alexander Pope)
Kita berdoa jika kesusahan dan membutuhkan sesuatu, mestinya kita juga berdoa dalam kegembiraan besar dan rezeki melimpah (Khalil Gibran)
Bagian terbaik dari seseorang adalah perbuatan-perbuatan baiknya dan kasihnya yang tidak diketahui orang lain (William Wordsworth)
Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, hidup di tepi jalan dan dilempari dengan batu, tapi membalas dengan buah (Abu Bakar Sibli)
Apabila kamu tidak bisa berbuat kebaikan kepada orang lain dengan kekayaanmu, maka berilah mereka kebaikan dengan wajahmu yang berseri-seri, disertai akhlak yang baik (Nabi Muhammad Saw.)
Keramahtamahan dalam perkataan menciptakan keyakinan, keramahtamahan dalam pemikiran menciptakan kedamaian, keramahtamahan dalam memberi menciptakan kasih (Lao Tse)
Kaca, porselen, dan nama baik, adalah sesuatu yang gampang sekali pecah, dan tak akan dapat direkatkan kembali tanpa bekas yang nampak (Benjamin Franklin)
Kita melihat kebahagiaan itu seperti pelangi, tidak pernah berada di atas kepala kita sendiri, tetapi selalu berada di atas kepala orang lain (Thomas Hardy)
Bersikaplah kukuh seperti batu karang yang tidak putus-putusnya dipukul ombak. Ia tidak saja tetap berdiri kukuh, bahkan ia menentramkan amarah dan gelombang itu (Marcus Aurelius)
Karena manusia cinta akan dirinya, tersembunyilah baginya aib dirinya. Tidak kelihatan olehnya walaupun nyata. Kecil di pandangnya walau bagaimana pun besarnya (Jalinus At Thabib)
Jika orang berpegang pada keyakinan, maka hilanglah kesangsian. Tetapi, jika semua orang mulai berpegang pada kesangsian, maka hilanglah keyakinan (Sir Francis Bacon)
Perbuatan-perbuatan salah adalah biasa bagi manusia, tetapi perbuatan pura-pura itulah sebenarnya yang menimbulkan permusukan dan pengkhianatan (Johan Wolfgang Goethe)
Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali nampak mustahil, kita baru yakin kalau kita telah melakukannya dengan baik (Evelyn Underhill)
Musuh yang paling berbahaya di atas dunia ini adalah penakut dan bimbang. Teman yang paling setia, hanyalah keberanian dan keyakinan yang teguh (Andrew Jackson)
Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita menyesali apa yang belum kita capai (Schopenhauer)
Orang-orang yang sukses telah belajar membuat diri mereka melakukan hal yang harus dikerjakan ketika hal itu memang harus dikerjakan, entah mereka menyukainya atau tidak (Aldus Huxley)
Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi (Ernest Newman)
Belajarlah dari kesalahan orang lain. Anda tak dapat hidup cukup lama untuk melakukan semua kesalahan itu sendiri (Martin Vanbee)
Dalam masalah hati nurani, pikiran pertama lah yang terbaik. Dalam masalah kebijaksanaan, pemikiran terakhirlah yang terbaik (Robert Hall)
Cara untuk menjadi di depan adalah memulai sekarang. Jika memulai sekarang, tahun depan Anda akan tahu banyak hal yang sekarang tidak diketahui, dan Anda tidak akan mengetahui masa depan jika Anda menunggu (William Feather)
Pahlawan bukanlah orang yang berani menetakkan pedangnya ke pundak lawan, tetapi pahlawan yang sebenarnya ialah orang yang sanggup menguasai dirinya ketika ia marah (Nabi Muhammad Saw.)
Ancaman nyata sebenarnya bukan pada saat komputer mulai bisa berfikir seperti manusia, tetapi ketika manusia mulai berfikir seperti komputer (Sydney Harris)
Orang-orang yang berhasil akan mengambil manfaat dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan, dan akan mencoba kembali untuk melakukan dengan cara yang berbeda (Dale Carnegie)
Hati yang penuh syukur bukan saja merupakan kebajikan yang terbesar, melainkan merupakan induk dari segala kebajikan yang lain (Cicero)
Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu (Benjamin Franklin)
Apa yang nampak sebagai suatu kemurahan hati, sering sebenarnya tiada lain adalah ambisi yang terselubung, yang mengabaikan kepentingan-kepentingan kecil untuk mengejar kepentingan-kepentingan yang lebih besar (La Roucefoucauld)
Tiga sifat manusia yang merusak adalah : kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan (Nabi Muhammad Saw.)
Kita semua hidup dalam ketegangan, dari waktu ke waktu, serta dari hari ke hari, dengan kata lain, kita adalah pahlawan dari cerita kita sendiri (Mary Mc Carthy)
Kerendahan hati menuntun pada kekuatan, bukan kelemahan. Mengakui kesalahan dan melakukan perubahan atas kesalahan adalah bentuk tertinggi dari penghormatan pada diri sendiri (John McCLoy)
Apapun tugas hidup kita, lakukanlah dengan baik. Seseorang semestinya melakukan pekerjaannya sedemikian baik sehingga mereka yang masih hidup, yang sudah mati dan yang belum lahir tidak mampu melakukannya lebih baik lagi (Marthin Luther King)
Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri (Bung Karno)
Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua : mereka yang berpikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang melakukan kegagalan tapi tak pernah memikirkannya (John Charles Salak)
Kegagalan adalah sesuatu yang bisa kita hindari dengan tidak mengatakan apa-apa, tidak melakukan apa-apa dan tidak menjadi apa-apa (Denis Waitley)
Persahabatan adalah hal tersulit untuk dijelaskan di dunia ini. Dan, itu bukan soal yang Anda pelajari di sekolah. Tetapi, bila Anda tidak pernah belajar makna persahabatan, Anda benar-benar tidak belajar apa pun (Muhammad Ali)
Kebaikan hati adalah ketidakmampuan untuk tetap tenteram jika ada orang lain yang merasa gelisah, ketidakmampuan merasa nyaman jika ada orang merasa tidak nyaman, ketidakmampuan untuk tetap berperasaan enak apabila seorang tetangga sedang gundah (Samuel H. Holdenson)
Maafkanlah musuh-musuh Anda, tapi jangan pernah melupakan nama-namanya (John F. Kennedy)
Hal terbaik yang bisa Anda lakukan untuk orang lain bukanlah membagikan kekayaan Anda, tetapi membantu ia untuk memiliki kekayaannya sendiri (Benjamin Disraeli)
Ada dua macam manusia di dunia ini : mereka yang mencari alasan dan mereka yang mencari keberhasilan. Orang yang mencari alasan selalu mencari alasan mengapa pekerjaannya tidak selesai, dan orang yang mencari keberhasilan selalu mencari alasan mengapa pekerjaannya dapat terselesaikan (Alan Cohen)
Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja, siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekedarnya saja, siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kau cintai (Imam Ali RA)
Sebuah tong yang penuh dengan pengetahuan belum tentu sama nilainya dengan setetes budi (Phytagoras)
Bila rahasia sebuah atom dari atom-atom tersingkap, rahasia segala benda ciptaan, baik lahir maupun batin akan tersingkap, dan kau takkan melihat pada dunia ini atau dunia yang akan datang kecuali Tuhan (Syaikh Ahmad Al-Alawi)
Lebih baik menjaga mulut Anda tetap tertutup dan membiarkan orang lain menganggap Anda bodoh, daripada membuka mulut Anda dan menegaskan semua anggapan mereka (Mark Twain)
Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki (Mahatma Ghandi)
Hal terindah yang dapat kita alami adalah misteri. Misteri adalah sumber semua seni sejati dan semua ilmu pengetahuan (Albert Einstein)
Orang-orang yang melontarkan kritik bagi kita pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran (Corni Ten Boom)
Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain, tapi kita kehilangan semangat (Abraham Lincoln)
Kata yang paling indah di bibir umat manusia adalah kata “Ibu”, dan panggilan yang paling indah adalah “ibuku”. Ini adalah kata yang penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati. (Kahlil Gibran)
Sahabatmu adalah kebutuhan jiwamu yang terpenuhi. Dialah ladang hatimu, yang dengan kasih kau taburi dan kau pungut buahnya penuh rasa terima kasih. Kau menghampirinya di kala hati gersang kelaparan, dan mencarinya di kala jiwa membutuhkan kedamaian. Janganlah ada tujuan lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya jiwa (Kahlil Gibran)
Seorang pecundang tak tahu apa yang dilakukannya bila kalah, tapi sesumbar apa yang dilakukannya bila menang. Sedangkan pemenang tak berbicara apa yang akan dilakukannya bila ia menang, tetapi tahu apa yang dilakukannya bila ia kalah (Eric Berne)
Seekor burung hantu yang bijaksana duduk di sebatang dahan. Semakin banyak ia melihat, semakin sedikit ia berbicara. Semakin sedikit ia berbicara, semakin banyak ia mendengar. Mengapa kita tidak seperti burung hantu yang bijaksana itu? (Edward Hersey Richards)
Pandanglah hari ini, kemarin sudah jadi mimpi. Dan esok hanyalah sebuah visi. Tetapi, hari ini yang sungguh nyata, menjadikan kemarin sebagai mimpi kebahagiaan, dan setiap hari esok adalah visi harapan (Alexander Pope)
Jadikan deritaku sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan di atas segalanya adalah kekuatan Yang Maha Esa (Bung Karno)
Ia akan datang, dan pergi. Seorang penguasa, pengemis atau pertapa – setiap orang yang lahir pasti mati. Menghembuskan nafas terakhir di atas tahta, atau diseret ke dalam kubur dengan tangan dan kaki terikat, apa bedanya? (Kabir)
Satu-satunya yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri (Franklin D. Rosevelt)
Saya melihat seorang pemecah batu sedang memukul sebongkah batu padas sampai seratus kali tanpa kelihatan retak sedikit pun. Tapi, pada pukulan ke seratus satu kali, batu itu pecah menjadi dua. Saya tahu bahwa bukan pukulan terakhir itu yang membelah batu, tapi semua pukulan yang sudah dilakukan sebelumnya (Jacob Riis)
Jika Anda membiarkan sesuatu yang kecil berlalu, Anda akan menemukan kedamaian yang kecil juga. Jika Anda membiarkan lebih banyak hal berlalu, Anda akan meraih lebih banyak kedamaian. Jika Anda benar-benar membiarkan seluruhnya berlalu, Anda akan mendapatkan seluruh kedamaian (Ajahn Chah)
Apa perbedaan antara hambatan dan kesempatan? Perbedaannya terletak pada sikap kita dalam memandangnya. Selalu ada kesulitan dalam setiap kesempatan dan selalu ada kesempatan dalam setiap kesulitan. (J. Sidlow Baxter)
Musisi harus menciptakan musik. Pelukis harus menggoreskan lukisannya. Penyair harus menulis sajaknya. Mereka harus melakukannya agar mencapai puncak kedamaian dalam diri mereka sendiri. Seseorang harus menjadi apa yang mereka bisa jadi (Abraham Maslow)
Meski Anda menyembunyikan pikiran buruk dalam hati Anda, tetap akan terpancar kekuatan kelam. Pikiran cinta, meskipun tak mengucapkannya, maka dunia pun akan terasa lebih terang (Ella Wheeler Wilcox)
Kadang-kadang anda dapat mengatasi sebuah situasi sulit hanya dengan bersedia memahami orang lain. Sering yang paling dibutuhkan oleh seseorang adalah mengetahui bahwa ada seorang lain yang peduli tentang bagaimana perasaannya dan berusaha memahami posisi mereka (Brian Tracy)
Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang bodoh akan kerjakan tiga hari kemudian (Abdullah Ibnu Mubarak)
Kesempatan Anda untuk sukses di setiap kondisi selalu dapat diukur oleh seberapa besar kepercayaan Anda pada diri sendiri (Robert Collier)
Saya tak pernah menjumpai seseorang yang menderita karena terlalu banyak bekerja. Lebih banyak orang menderita karena terlalu banyak ambisi tetapi tak cukup berusaha (Dr. James Mantague)
Nilai manusia, bukan bagaiman ia mati, melainkan bagaimana ia hidup. Bukan apa yang telah ia perolah, melainkan apa yang telah ia berikan. Bukan apa pangkatnya, melainkan apa yang telah diperbuat dengan tugas yang diberikan Tuha kepadanya (Ministry)
Perhatikan perbedaan antara apa yang terjadi bila seseorang berkata, “Saya telah gagal tiga kali”, dan apa yang terjadi bila ia berkata, “Saya orang yang gagal”. (S. I. Hayakawa)
Saat berbicara mode, berenanglah mengikuti arus. Saat berbicara prinsip, tegarlah seperti batu karang (Thomas Jefferson)
Ada dua cara untuk menjalani hidup ini dengan mudah, percaya pada segala sesuatu atau meragukan segala sesuatu. Kedua cara tersebut membebaskan kita dari berfikir (Theodore Rubin)
Hidup dengan melakukan kesalahan akan tampak lebih terhormat daripada selalu benar karena tidak melakukan apa-apa (George Bernard Shaw)
Kegagalan adalah satu-satunya kesempatan untuk memulai lagi dengan lebih cerdik (Henry Ford)
Apapun fakta yang ada di depan kita tidak lebih penting dari sikap kita dalam menghadapinya, karena itulah yang menentukan keberhasilan atau kegagalan kita (Norman Vincent Peale)
Anda adalah produk dari lingkungan Anda. Maka, pilihlah lingkungan terbaik bagi pengembangan Anda menuju tujuan-tujuan Anda. Analisalah hidup Anda melalui lingkaran Anda. Apakah hal-hal di sekitar Anda membatu Anda menuju sukses atau malah menahan Anda? (W. Clement Stone)
Kita harus saling memaafkan dan kemudian melupakan apa yang telah kita maafkan (Andrew Jackson)
Kebencian atau dendam tidak menyakiti orang yang tidak Anda sukai. Tetapi setiap hari dan setiap malam dalam kehidupan Anda, perasaan itu menggerogoti Anda (Norman Vincent Peale)
Jangan pernah berpisah tanpa ungkapan kasih sayang untuk dikenang. Mungkin saja perpisahan itu ternyata untuk selamanya (Jean Paul Reatcher)
Maut bukanlah kehilangan terbesar dalam hidup. Kehilangan terbesar adalah apa yang mati dalam sanubari sementara kita masih hidup (Norman Cousins)
Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tetapi ukuran sejati di bawah mentari adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain (Confusius)
Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang kali. Dengan demikian, kecemerlangan bukan tindakan, tetapi kebiasaan (Aristoteles)
Seorang pemimpin adalah orang yang melihat lebih banyak dari pada yang dilihat orang lain, melihat lebih jauh dari pada yang dilihat orang lain, dan melihat sebelum orang lain melihat (Leroy Eims)
Jangan biarkan orang lain mempengaruhi ide dan keputusan Anda. Dalam lima tahun ke depan, Anda lah – bukan mereka – yang harus hidup dengan pilihan yang Anda buat (Sarah Brklacich)
Bukalah mata sewaktu berjalan, karena bisa saja Anda akan bertemu kesempatan. Adapun kesempatan itu sendiri buta. Peganglah erat-erat, karena kesempatan datang dan pergi tanpa memberitahu (Anonim)
Sifat cinta sama seperti sifat air dan tanah. Apabila Anda tidak cukup menggali, yang Anda peroleh adalah air yang keruh. Apabila Anda cukup menggali, yang Anda peroleh adalah air yang bersih dan jernih (Hazrat Inayat Khan)
Tak ada rahasia untuk menggapai sukses. Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras dan mau belajar dari kegagalan (Gen Collin Powel)
Kita datang ke dunia ini sendiri, dan sendiri pula kita meninggalkannya. Di antara pintu masuk dan pintu keluar, kita menghabiskan waktu lain untuk mencari persahabatan (E. M. Dooling)
Mereka yang tidak bisa memaafkan orang lain menghancurkan jembatan yang akan dilewatinya (Confusius)
Tuhan menganugerahi Anda wajah, tapi kita harus memberikannya ekspresi (Anonim)
Manusia tidak dirancang untuk gagal, tapi manusia-lah yang gagal untuk merancang (William J. Siegel)
Hati Anda belum hidup kalau belum pernah mengalami rasa sakit. Rasa sakit karena cinta akan membuka hati, bahkan bila hati itu sekeras batu (Hazrat Inayat Khan)

Label: , ,